Wednesday, 2 September 2015

Tekanan Hidup

Yak 5:7-11

Saya pernah tinggal di rumah kayu yang lapuk sehingga dapat
   mendengar perkataan tetangga sebelah kirikanan. Suatu kali nenek di
   rumah sebelah memarahi dan memaki cucunya cukup lama. Pencetus
   kemarahannya mungkin sepele bagi sebagian kita, namun tidak bagi
   mereka. Si cucu menumpahkan bedak nenek, padahal bedak itu terhitung
   barang mahal bagi keluarga yang hidup sangat pas-pasan itu.

   Tekanan hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang
   sampai meledak tak terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita
   cenderung bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Yakobus
   menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang hukuman. Menggerutu
   dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit meringankan
   perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun.
   Penderitaan adalah bagian dari ujian iman. Yakobus mengingatkan
   bahwa Tuhan, Hakim Agung itu, sudah dekat. Kita bakal memetik hasil
   manis ketekunan kita sama seperti petani yang menantikan hasil
   tanamnya (ay. 7). Juga seperti Ayub yang memperoleh karunia
   berlimpah setelah melalui masa penderitaan (ay. 11).

   Apakah saat ini Anda sedang dihimpit oleh tekanan hidup? Anda lelah
   dan penat, seolah penderitaan Anda tidak pernah akan berakhir?
   Relasi Anda dengan keluarga, teman, dan rekan kerja pun semakin
   memburuk? Ingatkan diri Anda bahwa Tuhan itu penyayang dan penuh
   belas kasihan (ay. 11). Kesabaran Anda menghadapi tekanan pasti akan
   berbuah manis ketika Tuhan datang kembali dalam kemuliaan-Nya.
 

          TEKANAN HIDUP HARUS DIHADAPI DENGAN SABAR DAN TEKUN.
  NISCAYA KITA PUN BEROLEH KEBAHAGIAAN TAK TERKIRA BILA SAATNYA TIBA.

No comments:

Post a Comment