Yak 5:7-11
Saya pernah tinggal di rumah kayu yang lapuk sehingga dapat
mendengar perkataan tetangga sebelah kirikanan. Suatu kali nenek di
rumah sebelah memarahi dan memaki cucunya cukup lama. Pencetus
kemarahannya mungkin sepele bagi sebagian kita, namun tidak bagi
mereka. Si cucu menumpahkan bedak nenek, padahal bedak itu terhitung
barang mahal bagi keluarga yang hidup sangat pas-pasan itu.
Tekanan hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang
sampai meledak tak terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita
cenderung bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Yakobus
menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang hukuman. Menggerutu
dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit meringankan
perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun.
Penderitaan adalah bagian dari ujian iman. Yakobus mengingatkan
bahwa Tuhan, Hakim Agung itu, sudah dekat. Kita bakal memetik hasil
manis ketekunan kita sama seperti petani yang menantikan hasil
tanamnya (ay. 7). Juga seperti Ayub yang memperoleh karunia
berlimpah setelah melalui masa penderitaan (ay. 11).
Apakah saat ini Anda sedang dihimpit oleh tekanan hidup? Anda lelah
dan penat, seolah penderitaan Anda tidak pernah akan berakhir?
Relasi Anda dengan keluarga, teman, dan rekan kerja pun semakin
memburuk? Ingatkan diri Anda bahwa Tuhan itu penyayang dan penuh
belas kasihan (ay. 11). Kesabaran Anda menghadapi tekanan pasti akan
berbuah manis ketika Tuhan datang kembali dalam kemuliaan-Nya.
TEKANAN HIDUP HARUS DIHADAPI DENGAN SABAR DAN TEKUN.
NISCAYA KITA PUN BEROLEH KEBAHAGIAAN TAK TERKIRA BILA SAATNYA TIBA.
No comments:
Post a Comment