Hakim 2 16:4-22
Ted Haggard, seorang pendeta senior di gereja New Life di
Colorado, terkenal di kalangan kaum injili Amerika Serikat. Ia
terjatuh gara-raga sebuah skandal seksual pada 2007. Padahal, selain
pendeta gereja, ia juga ketua National Association of Evangelicals
(NAE). Pada awal mula kabar itu beredar, teman baiknya, James
Dobson, seorang psikolog Kristen terkenal, pun tidak percaya. Namun,
kenyataan berbicara lain. Ia benar-benar telah melalukan dosa
seksual. Bagaimana mungkin sosok sehebat Haggard dapat jatuh dalam
dosa ini?
Seorang pahlawan di kitab Hakim-hakim juga mengalami kejatuhan yang
sama. Ia bernama Simson. Jika kita membaca dari awal, Simson nazir
Allah sejak ia berada dalam kandungan. Tuhan pun sudah memakainya
beberapa kali, namun kenyataan berbicara lain. Simson gagal taat
kepada Tuhan. Apakah ia tiba-tiba gagal? Tidak. Ia mencintai dan
menikahi seorang gadis asing di Timna, ia memakan madu hutan dari
bangkai singa, hal yang dianggap najis bagi umat Allah, dan ia
menikah dengan Delila, juga perempuan asing. Tidak jarang pula kita
menangkap kesan bahwa Simson sangat membanggakan kekuatannya.
Kejatuhannya tidaklah tiba-tiba.
Orang percaya memang diberkati dan dilindungi Tuhan, namun jika
melihat Haggard dan Simson, seharusnya muncul kesadaran bahwa kita
orang yang lemah. Jika tidak senantiasa melatih diri (1 Kor. 9:27),
kita dapat jatuh. Ya, kegagalan biasanya diawali dari ketidaktaatan
yang menumpuk dan berkurangnya kepekaan rohani kita.
KEPEKAAN ROHANI DAN KETAATAN AKAN KEHENDAK ALLAH
ADALAH KUNCI PENTING AGAR TERHINDAR DARI KEJATUHAN DALAM DOSA.
No comments:
Post a Comment