Thursday, 3 September 2015

Mencukupkan diri

Filipi 4:10-20

Seorang pengusaha sukses mengalami kebangkrutan saat krisis
   moneter. Namun, ia tetap aktif melayani Tuhan dan tertawa-tawa,
   seolah tidak terjadi apa-apa. Rahasianya? "Saya memulai usaha dari
   bawah, dari sepetak kamar kontrakan. Kalau saya harus kehilangan
   semua, bukan masalah. Toh saya dapat mulai lagi dari sepetak kamar
   kontrakan. Saya dapat menjadi sopir taksi atau berjualan sate di
   pinggir jalan." Saya terkesan oleh sikapnya yang dapat mencukupkan
   diri dalam segala keadaan itu.

   Sebelum bertobat, Paulus (dulunya Saulus) seorang yang berkuasa dan
   berkelimpahan materi. Dalam perjalanannya mengikut Kristus, sering
   kali hidupnya jauh dari kata "nyaman" menurut dunia. Ketika
   menuliskan surat ini, ia sedang menjadi tawanan di penjara Roma.
   Bukan karena Paulus hebat dan tahan banting jikalau ia telah dan
   dapat menanggung semua itu, tetapi karena ia belajar mencukupkan
   diri, menerima apa pun yang dialaminya, dan senantiasa percaya Tuhan
   memberikan kekuatan kepadanya (ay. 11-13). Terlebih lagi, Paulus
   belajar menerima dengan ucapan syukur segala bentuk pertolongan
   saudara-saudara seimannya (ay. 14-18) dan menyadari bahwa Allah akan
   menyediakan segala kebutuhan mereka (ay. 19).

   Memang tidak banyak dari kita yang mengalami kasus seperti Paulus,
   tetapi kita semua, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti menghadapi
   kesulitan. Di tengah situasi yang berubah-ubah ini, Paulus mendorong
   kita untuk terus memercayai Allah yang sanggup memelihara dan
   mencukupkan kita dalam segala keadaan.

                 KURANGNYA RASA BERSYUKUR MENGAKIBATKAN
                    KITA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP.

No comments:

Post a Comment